Tingkatkan Keterampilan Pengamat Hilal, LDII Jawa Timur Latih 100 Peserta di Gresik
0 menit baca
GRESIK, jatim.benuapost.id – Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur menggelar Diklat Rukyat Hilal ke-4 di Ponpes Baitul Makmur, Gresik, Minggu (11/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 peserta dari perwakilan DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Selain utusan DPD, pelatihan ini juga melibatkan perwakilan dari sejumlah pondok pesantren, di antaranya Ponpes Wali Barokah Kota Kediri, Ponpes Gadingmangu Jombang, dan Ponpes Al-Ubaidah Kertosono.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) falakiyah dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriah melalui pengamatan hilal menggunakan teleskop. Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali untuk memahami pentingnya ilmu pengetahuan dan tanggung jawab dalam menjalankan tuntunan syariat.
Ketua Panitia Diklat Rukyat Hilal ke-4, Chabib Rohmatullah, menegaskan bahwa rukyatul hilal bukan sekadar mengarahkan teleskop dan menganalisis benda langit. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW yang memerlukan pengetahuan serta keterampilan memadai.
“Pelatihan ini memiliki nilai penting. Bukan hanya belajar mengarahkan teleskop saja, tetapi juga melaksanakan salah satu tuntunan syariat yang dilandasi ilmu, keterampilan, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia berharap diklat tersebut bisa memperkuat kemampuan generasiLDII, baik dalam penguasaan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan, “Harapannya bisa muncul cendekiawan dan ahli falakiyah dari kalangan LDII yang tidak hanya mumpuni secara keilmuan, tetapi juga memiliki karakter luhur,” harapnya.
Chabib menyoroti pentingnya memperluas titik pengamatan hilal di berbagai daerah untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Jika pengamatan di satu kabupaten atau kota belum membuahkan hasil, daerah lain masih berpotensi melihat hilal. Oleh sebab itu, keterlibatan seluruh DPD LDII se-Jawa Timur dinilai sangat penting.
“Kalau seluruh LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur melakukan pengamatan dan ternyata hanya satu DPD yang berhasil melihat hilal, hasil tersebut sudah bisa mencukupi atau mewakili keputusan tim Rukyatul Hilal LDII untuk melaporkan hasil pengamatan,” jelasnya.
Gresik kembali dipercaya menjadi tuan rumah Diklat Rukyat Hilal LDII Jawa Timur ke-4, setelah sebelumnya diselenggarakan di Gayungan Surabaya dan Sruni Sidoarjo. Pelatihan ini digelar untuk terus meningkatkan kapasitas para pengamat hilal LDII Jatim.
Pendataan Lembaga Falakiyah LDII Jatim mencatat tingkat keberhasilan pengamatan hilal baru mencapai sekitar 40 persen. Artinya, sebagian besar pengamat masih memerlukan peningkatan kompetensi.
Selain peningkatan kemampuan teknis, terbatasnya peralatan seperti teleskop di sejumlah DPD LDII kabupaten/kota juga menjadi tantangan utama.
Chabib menilai peningkatan kemampuan SDM harus berjalan beriringan dengan pemenuhan sarana pengamatan. Keduanya sama-sama dibutuhkan agar kegiatan rukyatul hilal dapat dilakukan secara optimal.
“Jangan sampai teleskop yang digunakan sudah canggih dan memenuhi standar, tetapi SDM-nya belum terlatih. Sebaliknya, jangan sampai semangat dan ilmu para pengamat sudah luar biasa, tetapi teleskop sebagai alat pendukungnya belum tersedia,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur Moch Amrodji Konawi mengatakan, Diklat Rukyat Hilal ke-4 menjadi sarana untuk melatih sekaligus membiasakan tim rukyat hilal di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dalam mengamati dan menentukan awal bulan Hijriah.
Ia menjelaskan, ada empat tujuan utama dalam ilmu falak, “Kita bisa mengetahui pergantian bulan baru, menentukan waktu salat, mengetahui arah kiblat, dan juga bisa memperkirakan waktu terjadinya gerhana,” ujar Amrodji.
Menurutnya, pembinaan tim falakiyah ini menjadi langkah penting agar LDII tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah terkait hasil rukyatul hilal, tetapi juga bisa berkontribusi secara langsung dalam proses pengamatan.
“Selama ini LDII mengikuti apa yang sudah ditetapkan pemerintah. Ke depan, kita berharap tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah, tetapi juga bisa terjun langsung membantu pemerintah dalam menentukan hasil pengamatan hilal,” imbuhnya.
Ia menambahkan, apabila tim falakiyah LDII berhasil melihat hilal, hasil pengamatan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah.
“Terlebih, jika kesaksian pengamat telah melalui proses sumpah di Pengadilan Agama, hasil tersebut dapat menjadi masukan tambahan dalam penetapan awal bulan,” tambah Amrodji.
Menurutnya, hasil pengamatan dari berbagai lokasi juga dapat saling melengkapi, “Ketika hilal belum terlihat di sejumlah tempat tetapi berhasil diamati oleh tim LDII di lokasi lain, maka temuan ini dapat memperkuat data pengamatan yang menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil keputusan,” ungkapnya.
Dalam diklat tersebut, peserta mendapatkan tiga materi utama. Materi pertama membahas teknik hisab dan rukyatul hilal. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan Mizwandroid, aplikasi yang membantu menentukan titik pengamatan hilal, serta materi metode mata elang.
Setelah menerima materi, peserta diarahkan untuk mengasah keterampilan pengamatan secara langsung pada sore hari menjelang waktu Magrib di Rooftop Rumah Sakit (RS) Surya Medika). (Redho)