HUT ke-81 Jawa Timur: Ekonomi Tumbuh, Tantangan Pemerataan dan Keberlanjutan Masih Menanti
0 menit baca
JAWA TIMUR – Jatim.benuapost.id
Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur menjadi momentum untuk mensyukuri berbagai capaian pembangunan sekaligus mengevaluasi pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan. Mengusung tema “Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan”, peringatan tahun ini menegaskan pentingnya membangun daerah yang kompetitif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan pembangunan untuk generasi mendatang.
Jawa Timur memiliki sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan perkembangan positif. Pada triwulan II 2026, perekonomian provinsi ini tercatat tumbuh 5,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam satu triwulan mencapai sekitar Rp930 triliun.
Perkembangan tersebut memperlihatkan besarnya aktivitas ekonomi Jawa Timur sebagai salah satu pusat perdagangan, industri, pertanian, dan jasa di Indonesia. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetap perlu diikuti pemerataan manfaat agar hasil pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp72,7 triliun dengan puluhan ribu proyek investasi. Capaian ini menjadi modal penting untuk memperkuat perekonomian daerah, membuka peluang usaha, serta mendorong penyerapan tenaga kerja.
Meski demikian, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya nilai modal yang masuk. Dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kesejahteraan masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
Pengangguran dan Kemiskinan Masih Menjadi Tantangan
Pada sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,42 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator kondisi pasar kerja yang perlu terus dijaga melalui penciptaan lapangan kerja produktif dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah daerah juga masih menghadapi pekerjaan besar dalam menekan angka kemiskinan. Berdasarkan data Maret 2026, tingkat kemiskinan Jawa Timur tercatat sebesar 9,06 persen atau setara dengan sekitar 3,71 juta penduduk.
Dalam kurun enam bulan, jumlah penduduk miskin dilaporkan berkurang sekitar 92 ribu orang. Penurunan ini menjadi perkembangan positif, tetapi jumlah penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan menunjukkan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan belum dapat berhenti.
Program pengentasan kemiskinan perlu terus diarahkan secara tepat sasaran, mulai dari penguatan ekonomi keluarga, peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan, pemberdayaan UMKM, hingga perluasan kesempatan kerja yang layak.
Selain itu, kesenjangan pembangunan antardaerah perlu menjadi perhatian. Pertumbuhan ekonomi di pusat-pusat industri dan perdagangan harus mampu memberikan dampak nyata bagi wilayah perdesaan maupun kawasan yang masih membutuhkan penguatan infrastruktur dan layanan dasar.
Keunggulan Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat
Tema “Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan” tidak semestinya berhenti sebagai slogan peringatan hari jadi. Keunggulan harus tercermin dalam kualitas pelayanan publik, daya saing industri, produktivitas pertanian, kemudahan berusaha, serta kemampuan pemerintah menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, kemajuan berkelanjutan menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup. Pembangunan perlu memperhitungkan risiko bencana, ketahanan pangan, ketersediaan air, serta dampak lingkungan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati saat ini.
Pada usia ke-81, Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang patut diapresiasi. Namun, capaian tersebut juga perlu menjadi dorongan untuk memperkuat kebijakan yang lebih inklusif, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Peringatan Hari Jadi Jawa Timur pada akhirnya bukan sekadar perayaan perjalanan panjang sebuah provinsi. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka pertumbuhan, nilai investasi, atau penurunan statistik kemiskinan, melainkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, cita-cita mewujudkan Jawa Timur yang unggul dan maju berkelanjutan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat yang adil bagi seluruh warga.
//jbp